Sumbawa, Bintangtv.id — Pemerintah Kabupaten Sumbawa mendorong konservasi berbasis masyarakat menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi pesisir dan pariwisata berkelanjutan. Penguatan peran masyarakat dinilai menjadi kunci agar kelestarian sumber daya laut berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, saat menghadiri The Regional Exchange di Ballroom Sumbawa Grand Hotel, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Cakrawala Konservasi Indonesia tersebut berlangsung 14-18 September 2026 di Whale Shark Learning Center, Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano. Forum diikuti sekitar 50 peserta dari Indonesia dan Timor-Leste untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman terkait konservasi berbasis masyarakat serta pengembangan community-based tourism.
Wabup H. Ansori mengatakan, Kabupaten Sumbawa memiliki potensi besar untuk mengembangkan model konservasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Desa Labuhan Jambu, menurutnya, menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat pesisir dapat berperan dalam menjaga ekosistem sekaligus mengembangkan sumber ekonomi keluarga.
“Konservasi harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, masyarakat harus menjadi bagian utama dalam pengelolaan sumber daya pesisir,” ujar Ansori.
Ia juga menyoroti potensi Teluk Saleh yang memiliki luas sekitar 1.459 kilometer persegi dan menjadi habitat penting hiu paus. Kawasan tersebut juga berada dalam kawasan SAMOTA yang mencakup Saleh, Moyo, dan Tambora, yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia pada 2019.
Menurutnya, kekayaan ekologis tersebut merupakan aset penting bagi Sumbawa yang harus dijaga sekaligus dikelola secara berkelanjutan. Pemerintah daerah akan terus mendorong pengembangan konservasi yang terintegrasi dengan pariwisata berbasis masyarakat.
Untuk mendukung arah tersebut, Pemkab Sumbawa mendorong sinergi pemerintah desa, kelompok masyarakat, pelaku usaha, sektor pariwisata, mitra pembangunan, serta lembaga konservasi. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan pengelolaan kawasan yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Ansori menegaskan, keberhasilan konservasi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah maupun program pelatihan. Keterlibatan masyarakat yang berada langsung di kawasan pesisir menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta The Regional Exchange untuk terus berbagi pengetahuan dan praktik baik pengelolaan konservasi, sehingga pengalaman dari Sumbawa maupun Timor-Leste dapat dikembangkan sesuai karakter wilayah masing-masing.
“Semoga forum ini menjadi ruang bertukar pengalaman dan pengetahuan untuk memperkuat pengelolaan konservasi yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” harapnya. (01)












