Politik pemerintahan

Pemkab Sumbawa Bangun Sinergi, Adat Samawa Diperkuat di Tengah Arus Globalisasi

66
×

Pemkab Sumbawa Bangun Sinergi, Adat Samawa Diperkuat di Tengah Arus Globalisasi

Sebarkan artikel ini

Sumbawa, Bintangtv.id — Lembaga Adat Tana’ Samawa (LATS) Kabupaten Sumbawa menggelar Musakara Adat di Aula Panglima Saleh, Kecamatan Moyo Utara, Rabu (16/9/2026).

 

iklan

Forum adat tersebut menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara LATS dan pemerintah daerah sekaligus membahas upaya menjaga adat dan budaya Samawa di tengah perubahan zaman.

 

Musakara Adat dibuka secara resmi oleh Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., yang juga merupakan Dea Pati Kanadi Ling Samawa. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Sumbawa selaku Wakil Dea Pati Kanadi Ling Samawa, Pariwa Adat, Pajatu Adat LATS, serta para tokoh adat dari seluruh Kabupaten Sumbawa.

 

Sejumlah isu strategis dibahas dalam forum tersebut, mulai dari penguatan sinergi LATS dengan pemerintah daerah, penetapan pranata adat, hingga sikap LATS terhadap sejumlah kegiatan adat yang dinilai perlu diselaraskan kembali dengan falsafah hidup Tau Samawa, “Adat Barenti Ko Sara’, Sara’ Barenti Ko Kitabullah.”

 

Bupati H. Jarot mengatakan, terselenggaranya Musakara Adat merupakan bentuk komitmen dan keberpihakan terhadap keberlangsungan adat dan budaya Samawa. Menurutnya, adat harus tetap menjadi pegangan masyarakat dalam menghadapi berbagai perubahan.

 

“Dengan adat kita perkuat pegangan. Ini bukan hanya forum untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengar,” ujar Bupati.

 

Ia menegaskan, kebangkitan Tau Samawa tidak cukup hanya bertumpu pada Intan Bulaeng maupun kekayaan sumber daya alam. Kemajuan daerah juga membutuhkan sumber daya manusia yang tangguh, berkarakter, serta memiliki jati diri yang kuat.

 

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyoroti pentingnya penataan kembali sejumlah prosesi adat agar tetap sejalan dengan pelaksanaan ibadah. Salah satunya prosesi nyorong dalam rangkaian pernikahan yang selama ini umumnya dilaksanakan pada sore hari.

 

“Nyorong misalnya, yang biasanya digelar sore, akan kita atur supaya tidak berbenturan dengan waktu salat Asar. Formulanya nanti kita rumuskan bersama LATS,” katanya.

 

Sementara itu, Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang diwakili Pariwa Adat LATS, KH. Lalu Zulkifli Muhadli, mengatakan Tau Samawa memiliki cultural pride dan historical pride yang menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan.

 

Ia menegaskan, mempertahankan adat bukan berarti menutup diri dari perkembangan dunia. Justru, nilai-nilai lokal harus menjadi pijakan dalam menyikapi arus globalisasi melalui pendekatan glokalisasi, yakni memadukan perkembangan global dengan kekuatan budaya lokal.

 

“Apakah kita akan mengisolasi diri? Tidak. Adat akan menjadi penopang kita menghadapi globalisasi,” ujarnya.

 

Menurutnya, perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan (AI) merupakan bagian dari perubahan yang tidak dapat dihindari. Masyarakat Samawa perlu mengenal, menyeleksi, dan mengadaptasi perkembangan tersebut tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas Tau Samawa.

 

Melalui Musakara Adat ini, LATS dan pemerintah daerah diharapkan dapat terus membangun sinergi untuk memastikan adat tetap hidup, relevan, dan berkembang di tengah perubahan zaman, sekaligus menjaga jati diri Tau Samawa yang beradab. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *