Sumbawa, Bintangtv.id– Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat memprediksi musim kemarau tahun 2026 di wilayah Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat akan datang lebih awal dibanding biasanya. Selain itu, musim kemarau tahun ini diperkirakan memiliki karakter lebih kering dan berlangsung lebih lama.
Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, menyampaikan bahwa awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Sumbawa diprediksi mulai pada Dasarian I April atau sekitar tanggal 1 hingga 10 April 2026.
“Untuk wilayah Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat, awal musim kemarau diperkirakan terjadi pada Dasarian I April 2026. Namun untuk wilayah Plampang, Empang, dan Tarano diprediksi sedikit lebih lambat, yakni pada Dasarian III April,” ujar Nuga dalam press rilis yang disampaikan oleh Stasiun Klimatologi NTB.
Ia menjelaskan bahwa sifat musim kemarau tahun ini diprediksi berada di bawah normal, yang berarti kondisi cuaca cenderung lebih kering dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya.
“Prediksi sifat musim kemarau 2026 di wilayah ini adalah bawah normal atau lebih kering dari kondisi rata-rata klimatologis,” jelasnya.
Berdasarkan analisis iklim yang dilakukan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2026 dengan durasi musim kemarau yang cukup panjang, yakni sekitar 8 hingga 9 bulan.
“Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dengan durasi musim kemarau sekitar 8 sampai 9 bulan,” ungkap Nuga.
Menghadapi kondisi tersebut, pihak Stasiun Klimatologi NTB memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat agar dapat mengantisipasi dampak yang mungkin timbul, terutama pada sektor pertanian dan ketersediaan air.
Salah satu langkah penting yang disarankan adalah penyesuaian jadwal tanam oleh para petani, serta pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan.
“Kami merekomendasikan agar petani melakukan penyesuaian jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, membutuhkan air lebih sedikit, dan memiliki siklus tanam yang lebih pendek,” katanya.
Selain itu, pemerintah daerah bersama masyarakat juga diimbau untuk menjaga ketersediaan sumber daya air secara optimal, termasuk mengatur penggunaan air irigasi secara lebih efektif.
Tidak hanya sektor pertanian, potensi dampak lain yang perlu diantisipasi adalah kekeringan yang dapat berpengaruh pada sektor kebersihan, kesehatan masyarakat, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
“Pemerintah daerah dan masyarakat perlu mengantisipasi potensi dampak kekeringan, baik terhadap kesehatan lingkungan maupun kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.
Dengan informasi dini ini, diharapkan seluruh pihak dapat melakukan langkah antisipasi sejak awal agar dampak musim kemarau yang lebih kering dan panjang dapat diminimalkan, khususnya di wilayah Sumbawa dan Sumbawa Barat. (01)












