Sumbawa, Bintangtv.id – Upaya pelestarian sejarah dan budaya di Pulau Sumbawa terus diperkuat. Museum Bala Datu Ranga menjalin kolaborasi dengan Museum Samparaja Bima untuk membangun jaringan pengkajian manuskrip dua Kesultanan besar di Pulau Sumbawa, yakni Kesultanan Sumbawa dan Kesultanan Bima.
Kolaborasi ini bertujuan mengungkap kembali jejak hubungan diplomatik, sosial, politik, hingga kekerabatan yang telah terjalin selama berabad-abad antara kedua Kesultanan. Berbagai informasi tersebut diyakini masih tersimpan dalam manuskrip kuno, arsip teks, maupun dokumentasi foto bersejarah.
Museum Samparaja Bima dikenal memiliki koleksi manuskrip bernilai tinggi, salah satunya Bo Sangaji Kai atau Catatan Harian Kesultanan Bima. Manuskrip tersebut telah ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Tahun 2024 dan kini sedang diajukan untuk memperoleh pengakuan Memory of the World (MoW) Southeast Asia.
Direktur Museum Bala Datu Ranga, Yuli Andari Merdikaningtyas, mengatakan kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya jaringan para peneliti manuskrip dari kedua Kesultanan.
“Harapannya kami menjalin kolaborasi, syukur-syukur bisa terbentuk jaringan para pengkaji manuskrip antar dua Kesultanan sehingga dapat diketahui bagaimana hubungan keduanya di masa lalu dari berbagai aspek,” ujar Yuli, (12/5/2026).
Menurutnya, kolaborasi tersebut didukung melalui Dana Abadi Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan bersama LPDP. Dukungan tersebut dimanfaatkan Museum Bala Datu Ranga untuk memperkuat kelembagaan dan jejaring kerja sama sehingga ke depan dapat dilakukan kajian koleksi hingga penyelenggaraan pameran bersama antar museum di Pulau Sumbawa.
Yuli menegaskan bahwa manuskrip merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi dan perlu dijaga keberadaannya.
“Manuskrip adalah harta karun tak ternilai yang diwariskan oleh para leluhur kita. Jejak-jejak identitas budaya yang harus kita kenali, kaji, dan lestarikan agar terpelihara selalu,” katanya.
Sebagai langkah awal, tim Museum Bala Datu Ranga melakukan observasi lapangan untuk melacak keberadaan manuskrip sekaligus melakukan wawancara dengan Kepala Museum Samparaja Bima, Dr. Dewi Ratna Muchlisa, yang juga merupakan seorang filolog.
Dari hasil observasi tersebut ditemukan banyak keterkaitan sejarah antara Kesultanan Sumbawa dan Kesultanan Bima yang terekam dalam berbagai manuskrip, arsip teks, serta foto-foto lama. Temuan itu diharapkan menjadi pintu masuk bagi penelitian yang lebih mendalam mengenai hubungan kedua Kesultanan.
Kunjungan tersebut juga menjadi momentum penegasan komitmen kerja sama antara Museum Bala Datu Ranga dan Museum Samparaja Bima melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang kajian koleksi dan pengembangan riset sejarah dua Kesultanan di Pulau Sumbawa.
Melalui kolaborasi ini, kedua museum berharap dapat memperkaya khazanah sejarah lokal sekaligus memperkuat upaya pelestarian manuskrip sebagai warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Pulau Sumbawa. (01)












