Sumbawa, Bintangtv.id – Kesultanan Sumbawa melalui Lembaga Adat Tana’ Samawa (LATS) menggelar Lokakarya Akademik bertema “Mengembalikan Nilai Takit Ko Nene’, Kangila Boat Lenge dalam Tata Kelola Sumber Daya Alam Sumbawa” di Hotel Nio Garden, Minggu pagi. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Fraksi PKS DPR RI dan MPR RI sebagai upaya memperkuat tata kelola sumber daya alam berbasis kearifan lokal, (30/11/2025).
Lokakarya ini diikuti oleh para akademisi, camat, pegiat budaya, serta aktivis lingkungan. Hadir sebagai keynote speaker Wakil Ketua Badan Anggaran MPR RI sekaligus Sekretaris Fraksi PKS DPR RI, H. Johan Rosihan, ST.
Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., membuka acara tersebut secara resmi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa nilai Takit Ko Nene’, Kangila Boat Lenge tidak hanya menjadi semboyan budaya, tetapi juga pedoman moral masyarakat Samawa yang mengajarkan ketakwaan, rasa malu melakukan keburukan, serta tanggung jawab menjaga alam.
Ia menilai bahwa kearifan lokal tersebut sangat relevan dalam menghadapi tantangan seperti krisis iklim, degradasi hutan, dan ancaman keseimbangan ekologis. Menurut Bupati, dialog yang digagas LATS ini penting untuk menyinergikan peran pemerintah daerah, lembaga adat, akademisi, masyarakat sipil, dan kebijakan nasional dalam menjaga kelestarian Sumbawa.
Bupati H. Jarot juga menegaskan visi lima tahun Pemerintah Kabupaten Sumbawa, yaitu Sumbawa Hijau dan Lestari. Visi ini diterapkan melalui sejumlah program nyata, di antaranya Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Sumbawa Hijau, Gerakan 1 ASN 1 Pohon, Gerakan 1 Siswa 1 Pohon, Program Tanam Pohon Dapat Sapi, serta penanaman tanaman ekonomi seperti kopi, kemiri, porang, sengon laut, dan sejumlah komoditas produktif lain.
“Berbagai langkah ini adalah investasi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat stabilitas ekologi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nilai Takit Ko Nene’, Kangila Boat Lenge kini menemukan kembali momentumnya sebagai dasar kebijakan publik yang menjaga harmoni antara manusia dan alam,” ujarnya.
Ketua Pajatu LATS, Dr. M. Ikhsan Safitri, menegaskan bahwa nilai-nilai budaya Samawa kini mulai mengalami distorsi sehingga penting untuk dibahas secara lebih mendalam. Ia berharap lokakarya ini dapat menghasilkan rumusan dan rekomendasi yang aplikatif bagi penguatan tata kelola SDA.
H. Johan Rosihan dalam pemaparannya menyampaikan bahwa meningkatnya bencana alam akhir-akhir ini merupakan peringatan Tuhan agar manusia lebih serius dalam menjaga alam, terutama hutan. Ia mengungkapkan bahwa DPR RI tengah merevisi Undang-Undang Kehutanan untuk memperjelas kedudukan masyarakat adat serta hutan adat.
Ia juga menilai bahwa Sumbawa memiliki risiko ekologis yang cukup tinggi. “Jika pengelolaan hutan tidak dilakukan secara serius, bukan tidak mungkin bencana seperti yang terjadi di Sumatera dapat pula menimpa Sumbawa,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk mendukung kebijakan Bupati Sumbawa dalam perlindungan hutan dan penguatan tata kelola lingkungan. (01)












