Sumbawa Barat, Bintangtv.id – Di Desa Seloto yang tenang dan sederhana, seorang pemuda bernama Ipan Apriliswan tumbuh dengan mimpi besar. Lahir pada 15 April 1999, Ipan tak pernah menyangka bahwa langkah kecilnya dari pelosok desa akan membawanya ke tambang terbesar kedua di Indonesia, PT Amman Mineral Nusa Tenggara.
Sebagai anak sulung dari pasangan M. Zein dan Hapipah, Ipan tumbuh dalam keluarga sederhana. Sejak kecil ia tahu, beban ekonomi orang tuanya tidak ringan.
Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, ia memilih untuk berjuang. Pendidikan menjadi satu-satunya harapan yang ia genggam erat di tengah keterbatasan.
“Bapak dulu sering bilang, kalau mau ubah nasib, sekolah yang sungguh-sungguh,” kenangnya, Sabtu (11/10/2025).
Setelah menyelesaikan kuliah di Jurusan Pendidikan Teknik Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta pada tahun 2021, Ipan memberanikan diri melamar pekerjaan di PT Catur Cahaya Niaga Mitra (CCNM), salah satu subkontraktor resmi PT Amman Mineral. Perusahaan ini bergerak di bidang Electrical, Mechanical, Engineering, serta Maintenance Service.
Tahun 2022 menjadi awal langkah besarnya. Ipan diterima bekerja di PT CCNM dan ditempatkan di area tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat.
“Saya bersyukur bisa diterima. Di sini saya belajar banyak hal, bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga tanggung jawab,” ujar lulusan SMP dan SMA Al- Muhajirin seloto ini, dengan senyum yang menyiratkan rasa bangga.
Bagi Ipan, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan bentuk pengabdian. Dengan gajinya, ia membantu biaya kuliah adik perempuannya hingga berhasil meraih gelar sarjana. Bagi keluarga, Ipan bukan hanya anak pertama, tetapi juga penopang harapan dan simbol keberhasilan.
Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Ipan selalu mengingat pesan ibunya: “Jangan takut capek, Nak, asal halal dan berkah.” Kalimat sederhana itu menjadi doa yang terus menuntun langkahnya di antara deru mesin tambang dan panasnya debu Batu Hijau.
Perjalanan Ipan tidak selalu mulus. Ia pernah gagal dalam beberapa lamaran kerja dan sempat merasa putus asa. Namun keyakinannya pada pendidikan dan kerja keras membuatnya bangkit kembali. “Saya percaya, kalau kita sungguh-sungguh, Tuhan pasti buka jalan,” ucapnya lirih.
Kisah Ipan adalah potret nyata perjuangan anak muda daerah yang menembus kerasnya dunia kerja. Di tengah ketatnya persaingan dan minimnya lapangan pekerjaan, ia membuktikan bahwa asal punya tekad, anak desa pun bisa berdiri sejajar di dunia industri besar.
Kini, Ipan tak hanya ingin bekerja dan menafkahi keluarga. Ia punya mimpi lebih besar: membantu anak-anak muda di desanya agar berani bermimpi dan melanjutkan sekolah. “Saya ingin mereka tahu, tidak ada yang mustahil kalau mau belajar dan berusaha,” katanya penuh semangat.
Kisah Ipan Apriliswan menjadi cermin bahwa keberhasilan bukan semata soal keberuntungan, tetapi hasil dari kerja keras, doa, dan cinta pada keluarga.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan sempitnya peluang kerja, kisah seperti Ipan mengingatkan kita bahwa di balik setiap kesuksesan besar, selalu ada ketulusan kecil yang tumbuh dari desa.
“Ipan itu anaknya pantang menyerah. Waktu belum dapat kerja, dia tetap bantu-bantu di rumah tanpa mengeluh,” kenang ibunya, Hapipah.
Sementara itu, salah satu rekan kerjanya mengaku kagum pada semangat Ipan. “Dia cepat beradaptasi dan mau belajar hal baru. Kami bangga punya teman kerja sepertinya,” ujar Kipriadi, rekan kerjanya. (02)












