Umum

UNSA Buka Ruang Debat Akademik, Sejarah dan Identitas Cek Bocek Dikaji dari Berbagai Perspektif

40
×

UNSA Buka Ruang Debat Akademik, Sejarah dan Identitas Cek Bocek Dikaji dari Berbagai Perspektif

Sebarkan artikel ini

SUMBAWA, Bintangtv.id — Universitas Samawa (UNSA) menggelar kegiatan diseminasi hasil riset tentang sejarah dan masyarakat adat Cek Bocek di Aula UNSA, Kamis (8/10/2026).

 

iklan

Kegiatan tersebut menjadi ruang akademik untuk mempertemukan berbagai pandangan terkait sejarah, kebudayaan dan identitas masyarakat Samawa. UNSA menghadirkan sejumlah akademisi sebagai pemantik diskusi, termasuk Rusli Cahyadi P. HDY, dari BRIN, Prof. H. Iwan Kasadi P. Hd, Ketua STKIP Paracendikia NW Sumbawa, Dr. Burhanuddin M. Hum, Akademisi dan Pemeliti UNRAM, dengan Moderator Dr. Enra Syaifuddin SH. MH, Advokad dan Alademisi UNSA.

 

Warek II UNSA, Muhammad Yamin, SE., M.Si., yang mewakili Rektor UNSA Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, M.Pd., mengatakan kegiatan diseminasi sengaja dirancang untuk membuka ruang perdebatan akademik, termasuk menghadirkan pihak-pihak yang memiliki pandangan berbeda terhadap hasil riset mengenai Cek Bocek.

 

Menurutnya, dua akademisi yang memiliki pandangan berbeda dan telah dikomunikasikan untuk menjadi pemantik berhalangan hadir karena memiliki agenda lain yang bersamaan. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat UNSA untuk menjadikan forum sebagai ruang diskusi yang dinamis.

 

“Kami sangat berharap dari diseminasi ini lahir banyak perdebatan akademik dari dua bagian yang memiliki pandangan berbeda tentang Cek Bocek,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, perbedaan pandangan dalam dunia akademik merupakan sesuatu yang penting karena sejarah tidak seharusnya diterima begitu saja tanpa kajian, pertanyaan dan kritik.

 

“Bangsa yang tidak bisa membaca sejarahnya sendiri akan kehilangan arah. Masyarakat yang tidak mengenal masa lalunya akan sulit memahami jati dirinya. Generasi yang tidak belajar dari perjalanan masa lalu akan mudah mengulang kesalahan yang sama,” katanya.

 

Menurutnya, sejarah yang perlu dibaca bukanlah sejarah yang tiba-tiba muncul, kemudian terus dikampanyekan hingga menciptakan apa yang disebut sebagai “efek kebenaran ilusif”.

 

Sebaliknya, sejarah harus terus hidup dan dikaji dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap generasi, kata dia, harus memiliki ruang untuk membaca, mempertanyakan, mengkritisi serta menghubungkan sejarah dengan realitas pada zamannya.

 

Dalam konteks sejarah Sumbawa, ia mencontohkan kajian John Ernst Jasper mengenai Pulau Sumbawa dan penduduknya pada 1907. Dalam catatan tersebut disebutkan tidak terdapat komunitas masyarakat yang berada di luar kekuasaan Kesultanan Sumbawa.

 

Pada masa itu, Kesultanan Sumbawa telah membagi wilayah pemerintahan yang dibantu sejumlah pejabat tinggi kerajaan, salah satunya Datu Ranga yang memiliki wilayah kekuasaan meliputi Empang, Plampang, Utan, Alas, Mapin, Soeri, Selesek, Garantah hingga Dodo di bagian selatan.

 

“Kalau tiba-tiba ada persepsi baru tentang penggalan sejarah Sumbawa, itulah yang harus kita kaji secara akademik, bukan diterima begitu saja,” tegasnya.

 

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum sehari. UNSA ingin mendorong lahirnya lebih banyak penelitian mengenai sejarah dan kebudayaan Samawa sekaligus memperluas ruang akademik yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan pengalaman masyarakat.

 

“UNSA bukan hanya tempat pengetahuan diproduksi, tetapi juga tempat sejarah Sumbawa dibaca, kebudayaan dirawat dan masa depan Sumbawa dirancang,” katanya.

 

Ia menegaskan, Sumbawa tidak semata-mata menjadi objek penelitian. Sumbawa merupakan rumah bersama yang harus dipahami sejarahnya, dirawat identitasnya dan dipersiapkan masa depannya.

 

“Rumah yang baik bukan hanya rumah yang kita tinggali, tetapi rumah yang kita pahami sejarahnya, kita rawat identitasnya dan kita siapkan masa depannya,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, UNSA juga menyampaikan apresiasi kepada tim peneliti BRIN dan para pemantik yang telah berkontribusi dalam kegiatan diseminasi.

 

UNSA turut mengundang berbagai pihak yang memiliki kepentingan langsung dengan substansi riset, baik dari masyarakat adat maupun kalangan akademisi yang memiliki perbedaan pandangan terhadap hasil penelitian tersebut.

 

Forum tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun tradisi akademik yang sehat, terbuka dan kritis dalam membaca sejarah Sumbawa serta memperkuat kajian tentang kebudayaan Samawa. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *