Diskusi digelar secara hybrid (daring dan luring) di Kantor Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jakarta Pusat, dihadiri oleh berbagai kalangan diaspora Sumbawa dari lintas profesi seperti akademisi, birokrat, pelaku usaha, dan praktisi kebijakan publik.
Ketua Umum IKASUM, Dr. Lukman Malanuang, Rabu (23/07/2025), menyampaikan bahwa diskusi ini adalah bagian dari komitmen diaspora untuk turut berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah asal. Kegiatan serupa akan digelar secara berkelanjutan dengan membahas sektor-sektor unggulan lainnya.
“Kita tidak ingin kekayaan alam Sumbawa terus-menerus dinikmati tanpa memberikan manfaat nyata bagi daerah. Kita ingin mendorong kebijakan yang berkeadilan dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat lokal,” ungkapnya.
Diskusi menghadirkan narasumber utama, Direktur Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Ketua Tim Pengembangan Kawasan Terpadu SAMOTA, Badrul Munir. Mereka mengupas tuntas potensi besar Teluk Saleh — kawasan perairan yang luasnya hampir setara dengan Pulau Lombok, dan dikenal sebagai sentra penghasil udang terbesar di Indonesia serta pemasok utama rumput laut nasional.
Ironisnya, dalam empat tahun terakhir, nilai ekonomi yang diambil dari kawasan Teluk Saleh mencapai lebih dari Rp 73 triliun, namun kontribusinya terhadap PAD Kabupaten maupun Provinsi nyaris nol persen.
Dalam diskusi, para peserta sepakat bahwa perlu ada langkah konkret seperti:
* Perbaikan tata kelola sumber daya kelautan,
* Optimalisasi regulasi retribusi dan pajak daerah berbasis potensi perikanan,
* Penguatan kelembagaan nelayan dan pelaku usaha lokal,
* Serta percepatan implementasi kawasan strategis terpadu SAMOTA.
Kegiatan ini ditutup dengan komitmen IKASUM untuk terus mendorong lahirnya rekomendasi-rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah, legislatif, dan kementerian terkait sebagai bentuk kontribusi diaspora dalam mendorong kemajuan Sumbawa yang lebih berdaulat secara ekonomi. (06)












