Sumbawa, Bintangtv.id — Tragedi maut kembali terjadi di kawasan tambang emas rakyat Lawang Tua, Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dinding galian tambang tiba-tiba ambruk dan menimbun para penambang yang tengah bekerja pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 21.30 WITA.
Dalam peristiwa tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lima penambang lainnya mengalami luka berat akibat tertimpa material tanah dan bebatuan.
Seorang penambang yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengatakan, kejadian berlangsung sangat cepat. Para penambang yang berada di dalam galian tidak sempat menyelamatkan diri ketika bagian atas lokasi tambang tiba-tiba runtuh.
“Kejadiannya sangat cepat. Kami sedang bekerja seperti biasa, tiba-tiba bagian atas runtuh menimpa rekan-rekan yang berada di bawah,” ujarnya.
Menurutnya, dua korban meninggal dunia di lokasi kejadian. Keduanya disebut merupakan Kepala Dusun Leweng dan seorang warga Desa Pelita. Sementara satu korban lainnya sempat dievakuasi dan dilarikan ke Puskesmas Lantung, namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
“Yang meninggal di tempat ada dua orang, yaitu Kepala Dusun Leweng dan seorang warga dari Desa Pelita. Satu korban lainnya sempat kami larikan ke Puskesmas Lantung, tapi nyawanya tidak tertolong,” ungkapnya.
Proses evakuasi berlangsung dalam kondisi serba terbatas. Warga dan sesama penambang berupaya mengevakuasi para korban menggunakan peralatan seadanya.
Lima korban yang berhasil dievakuasi dalam kondisi luka berat. Sejumlah korban mengalami patah tulang setelah tertimpa material tanah dan bebatuan.
“Kondisinya parah, ada yang patah tulang. Kami gotong pakai tandu darurat dari karung menuju puskesmas,” katanya.
Kawasan tambang emas Lawang Tua selama ini dikenal memiliki tingkat risiko yang tinggi. Kondisi medan yang curam, struktur tanah yang labil serta aktivitas penggalian yang dilakukan secara sederhana membuat para penambang menghadapi ancaman longsor dan runtuhan material.
Minimnya peralatan keselamatan juga menjadi salah satu persoalan yang kerap dihadapi penambang rakyat. Aktivitas penggalian disebut masih mengandalkan peralatan sederhana seperti pahat dan linggis, dengan perlindungan keselamatan kerja yang terbatas.
Sebelumnya, Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., bersama jajaran Forkopimda diketahui pernah meninjau kawasan tambang di wilayah Lantung. Namun, insiden kembali terjadi dan menelan korban jiwa.
Peristiwa tersebut kembali menyoroti persoalan keselamatan serta pengawasan terhadap aktivitas pertambangan rakyat di wilayah Lantung.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi terkait status legalitas aktivitas tambang tersebut maupun penyebab pasti runtuhnya material tanah dan batuan.
Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus menjadi peringatan keras mengenai tingginya risiko keselamatan yang dihadapi masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan rakyat.(01)












