Sumbawa, Bintangtv.id – Suasana mendadak riuh di SDN 1 Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, Jumat (22/8/2025). Ratusan murid berhamburan keluar kelas saat sirene tanda gempa dibunyikan.
Namun bukan karena bencana sungguhan, melainkan simulasi evakuasi gempa bumi yang digelar BPBD Kabupaten Sumbawa bersama mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Universitas Samawa (UNSA) dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang mengajarkan siswa cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa. Anak-anak dilatih keluar ruangan dengan tertib, melindungi kepala, dan menuju titik kumpul yang aman.
Kalak BPBD Kabupaten Sumbawa M. Nurhidayat, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbawa, Dr. Rusdianto, menjelaskan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat kerentanan bencana sangat tinggi, sehingga pendidikan kesiapsiagaan mutlak diperlukan sejak dini.
“Bencana tidak bisa dihindari, tapi kita bisa mengurangi dampaknya dengan kesiapan. Melalui SPAB, anak-anak tidak hanya dilatih keterampilan teknis, tapi juga ditanamkan nilai solidaritas dan gotong royong sebagai kekuatan sosial dalam merespons bencana,” ujarnya.
Program SPAB sendiri diatur dalam Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 yang menekankan pentingnya sekolah sebagai basis penguatan ketahanan menghadapi bencana. Karena itu, kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai edukasi formal, tapi juga pembiasaan praktis yang menyenangkan bagi siswa.
Sementara itu, kelompok KKL UNSA memilih tema “Ketahanan Sekolah dalam Menghadapi Bencana” untuk memperkuat kesadaran masyarakat sejak bangku pendidikan dasar. Kolaborasi dengan BPBD dan MDMC diharapkan memberi dampak nyata bagi anak-anak dan guru dalam memahami prosedur penyelamatan diri.
“Kami ingin anak-anak terbiasa menghadapi situasi darurat. Dengan latihan berulang, mereka tidak panik jika suatu saat bencana benar-benar terjadi,” tambah Rusdianto.
Kepala sekolah dan para guru pun menyambut baik kegiatan ini. Mereka berharap simulasi serupa bisa dilaksanakan rutin agar budaya tanggap bencana benar-benar melekat pada seluruh warga sekolah.
Harapannya, SDN 1 Penyaring bisa menjadi contoh sekolah tangguh bencana di Sumbawa, sekaligus memperkuat misi besar Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang lebih siaga dan aman dari risiko gempa bumi. (01)












