Politik pemerintahan

Perempuan Jadi Penggerak Lingkungan, PKK Sumbawa dan Plan Indonesia Perkuat Fasilitator Inklusif

1
×

Perempuan Jadi Penggerak Lingkungan, PKK Sumbawa dan Plan Indonesia Perkuat Fasilitator Inklusif

Sebarkan artikel ini

Sumbawa, Bintangtv.id — Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumbawa bersama Plan International Indonesia memperkuat peran perempuan dan kelompok masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim melalui Pelatihan Teknik Fasilitasi Kegiatan Inklusif Program CERAH (Cerdas Kelola Air dan Lahan untuk Keberlanjutan).

 

iklan

Kegiatan yang mendukung aksi adaptasi perubahan iklim, konservasi lahan dan ketahanan air tersebut digelar di Aula Sekretariat TP PKK Kabupaten Sumbawa, Kamis (24/9/2026).

 

Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa, Hj. Ida Fitria Syarafuddin Jarot, SE, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa pendekatan inklusif menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan air, lahan dan perubahan iklim.

 

Menurutnya, keberhasilan pembangunan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan program dan kebijakan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh kelompok masyarakat.

 

“Belajar menjadi fasilitator yang mampu membuat semua orang merasa punya tempat, punya suara, dan punya kesempatan untuk berbuat,” ujar Ida Fitria.

 

Ia menjelaskan, persoalan air, lahan dan perubahan iklim sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketika air sulit diperoleh, keluarga menjadi salah satu pihak yang paling cepat merasakan dampaknya. Begitu pula ketika hasil pertanian menurun, banjir, kekeringan maupun kerusakan lingkungan terjadi.

 

Dalam kondisi tersebut, perempuan, anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas dapat menghadapi tantangan yang berbeda, bahkan lebih berat.

 

“Karena itu, saya melihat Program CERAH bukan sekadar program lingkungan. Ini adalah program tentang bagaimana kita menjaga kehidupan, ekonomi keluarga dan masa depan anak-anak kita,” katanya.

 

Ida Fitria juga menyoroti kondisi lingkungan Kabupaten Sumbawa. Berdasarkan data yang disebutnya dipublikasikan Plan Indonesia pada 2026, sekitar 59 persen wilayah Kabupaten Sumbawa merupakan kawasan hutan atau sekitar 393 ribu hektare.

 

Di sisi lain, terdapat lebih dari 45 ribu hektare lahan yang masuk kategori sangat kritis dan lebih dari 113 ribu hektare lahan kritis.

 

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan memiliki kaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari ketersediaan air, pertanian, peternakan hingga ketahanan ekonomi keluarga.

 

“Ketika kita berbicara tentang menanam pohon, menjaga mata air, mengelola lahan dan mengurangi risiko bencana, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang air yang diminum anak kita, sawah yang digarap petani, ternak yang dipelihara masyarakat, dan dapur keluarga yang harus tetap mengepul,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, tantangan perubahan iklim membutuhkan kesiapan sejak dini. Karena itu, fasilitator harus mampu mengajak masyarakat berdiskusi, mendengarkan berbagai pandangan, mengelola perbedaan dan memastikan kelompok rentan mendapatkan ruang untuk terlibat.

 

“Inklusi bukan sekadar menghadirkan semua orang di dalam ruangan. Inklusi berarti memastikan semua orang mempunyai kesempatan untuk memengaruhi keputusan,” tegasnya.

 

Ida Fitria juga mengingatkan pengalaman Kabupaten Sumbawa melalui program Water for Women yang sebelumnya dilaksanakan bersama Plan Indonesia.

 

Program tersebut telah mendampingi 32 desa, 26 puskesmas dan 8 sekolah dalam penguatan akses air dan sanitasi yang berketahanan iklim serta berkesetaraan gender.

 

Program tersebut juga melibatkan hampir 900 anak muda, lebih dari 1.800 perempuan dan lebih dari 360 penyandang disabilitas.

 

“Artinya, kita sebenarnya sudah memiliki modal sosial yang kuat. Tinggal bagaimana pengalaman itu kita lanjutkan menjadi gerakan yang lebih luas dan lebih nyata,” katanya.

 

Menurut Ida Fitria, TP PKK Kabupaten Sumbawa memiliki posisi strategis dalam memperluas pengetahuan dan praktik tersebut karena kader PKK bersentuhan langsung dengan masyarakat hingga tingkat keluarga dan desa.

 

Karena itu, ia meminta peserta tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan, tetapi menerapkannya di tengah masyarakat.

 

“Bawa pulang ilmunya. Bawa ke desa. Bawa ke komunitas. Bawa ke keluarga,” pesannya.

 

Ia mencontohkan, apabila setelah pelatihan seorang peserta mampu mengajak masyarakat menjaga mata air, mengurangi sampah, menanam pohon, mengelola lahan dengan lebih baik atau membuka ruang bagi kelompok rentan dalam pengambilan keputusan, maka pelatihan tersebut telah menghasilkan perubahan nyata.

 

Hal itu, lanjutnya, sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Sumbawa mendorong Sumbawa Hijau Lestari sebagai gerakan pemulihan lingkungan.

 

Hingga April 2026, gerakan penghijauan yang dilaksanakan pemerintah daerah telah menanam lebih dari 35 ribu pohon. Selain itu, ratusan ribu bibit tanaman keras dan produktif telah didistribusikan ke 24 kecamatan.

 

Namun, Ida Fitria menegaskan bahwa penghijauan tidak cukup hanya dengan menanam pohon.

 

“Menanam pohon saja tidak cukup. Pohon harus hidup. Air harus tetap tersedia. Lahan harus produktif. Masyarakat harus ikut menjaga. Dan yang paling penting, perubahan perilaku harus tumbuh bersama,” katanya.

 

Ia berharap peserta pelatihan tidak hanya membawa pulang sertifikat dan materi, tetapi juga cara pandang baru bahwa setiap orang dapat menjadi fasilitator perubahan.

 

“Perubahan besar sering kali dimulai dari percakapan kecil di rumah, di kelompok, di sekolah, di desa, atau di komunitas,” ujarnya.

 

Ida Fitria mengajak perempuan, pemuda dan penyandang disabilitas tidak hanya menjadi kelompok yang dibicarakan dalam pembangunan, tetapi ikut menjadi bagian yang menentukan arah pembangunan.

 

Ia menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Plan International Indonesia dan Program CERAH atas kemitraan yang telah dibangun bersama TP PKK Kabupaten Sumbawa.

 

“Semoga kolaborasi ini semakin kuat dan menghasilkan aksi-aksi nyata untuk menjaga air, lahan dan lingkungan Sumbawa bagi generasi yang akan datang,” pungkasnya.

 

Kegiatan tersebut dihadiri Project Coordinator CERAH NTB Abdul Rohman, para fasilitator dan narasumber dari UNSA, Forum Disabilitas SAREA, seluruh tim CERAH, pengurus dan kader TP PKK Kabupaten Sumbawa, serta perwakilan organisasi perempuan, pramuka, perguruan tinggi, kepemudaan, komunitas dan organisasi disabilitas. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *