Melbourne|Bintangtv.id– Kebutuhan tenaga perawat di Australia yang terus meningkat membuka peluang besar bagi perawat Indonesia untuk meniti karier di level internasional. Bahkan, kekurangan perawat di Negeri Kanguru itu diproyeksikan mencapai 123.000 orang pada 2030.
Menjawab peluang tersebut, Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Sumbawa Barat ambil bagian dalam kegiatan hybrid webinar bertema “Pathways & Opportunities for Indonesian Nurses in Australia” yang digelar bersama Indonesian Professionals in Healthcare (IPHC) Melbourne dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne, Rabu, 15 April 2026.
Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari Indonesia dan Australia. Selain menjadi bagian dari peringatan HUT PPNI ke-52, webinar ini juga digelar dalam rangka menyambut International Nurses Day 2026, dengan fokus pada peningkatan kesiapan perawat Indonesia menghadapi pasar kerja global.
Ketua DPD PPNI Kabupaten Sumbawa Barat, H. M. Yusfi Khalid, menegaskan bahwa perubahan kebutuhan tenaga kesehatan dunia menuntut perawat Indonesia untuk berpikir lebih luas, tidak hanya berorientasi pada pasar domestik.
“Ini langkah nyata untuk mempersiapkan perawat Indonesia menghadapi pasar global. Kita tidak bisa lagi hanya berpikir lokal, tetapi harus mulai merencanakan dan memanfaatkan peluang karier internasional,” ujarnya.
Hal senada disampaikan President IPHC Melbourne, Sabrina Suwandi. Ia menyebut, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen IPHC dalam membuka akses informasi yang kredibel bagi perawat Indonesia yang ingin berkarier di luar negeri.
“Melalui webinar ini, kami ingin memastikan perawat Indonesia memahami jalur yang legal, realistis, dan berkelanjutan, sekaligus mendorong kepercayaan diri untuk mengambil peluang karier internasional,” katanya.
Webinar ini secara resmi dibuka oleh Wakil Konsul Jenderal RI di Melbourne, Jani Sasanti. Dalam sambutannya, ia memaparkan tingginya kebutuhan tenaga perawat di Australia.
Berdasarkan data yang disampaikan, Australia diperkirakan mengalami kekurangan sekitar 85.000 perawat pada 2025, dan jumlah tersebut akan meningkat menjadi 123.000 pada 2030.
Khusus di negara bagian Victoria, kebutuhan tenaga keperawatan diproyeksikan bertambah lebih dari 12.000 perawat pada 2026, terutama di sektor layanan lansia, disabilitas, dan kesehatan primer.
Dalam webinar tersebut, peserta juga mendapatkan pemaparan langsung dari para akademisi dan praktisi berpengalaman. Di antaranya Prof. Lisa McKenna dari La Trobe University, Katarina Costantine Futwembun (Registered Nurse sekaligus Direktur Shine Nursing Agency), serta Fauzia Farah Az Zahra (Registered Nurse di Monash Health).
Mereka membagikan wawasan seputar jalur registrasi perawat di Australia, strategi transisi karier, hingga pengalaman langsung bekerja di sistem kesehatan setempat.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi diskusi interaktif. Hal ini mencerminkan meningkatnya minat perawat Indonesia untuk mengembangkan karier di tingkat global.

PPNI Kabupaten Sumbawa Barat menilai, kolaborasi lintas negara seperti ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas dan daya saing perawat Indonesia. Akses terhadap informasi yang akurat dinilai krusial agar perawat dapat menempuh jalur karier internasional secara legal, aman, dan berkelanjutan.
Ke depan, kolaborasi antara organisasi profesi, komunitas diaspora, dan perwakilan pemerintah diharapkan terus diperkuat. Langkah ini dinilai penting untuk mendorong peningkatan profesionalisme sekaligus kesejahteraan perawat Indonesia di tengah era globalisasi. (02)












