Mataram, Bintangtv.id– Peringatan Hari Ulang Tahun Nusa Tenggara Barat ke-67 dirayakan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dengan cara yang jauh dari kemegahan seremoni. Tanpa panggung megah dan pesta besar, ia memilih menghadiahkan keberangkatan ibadah umrah kepada 33 warga yang selama ini setia melayani dalam diam.
Mereka bukan nama-nama yang kerap muncul di barisan depan acara resmi. Di antara para penerima umrah itu terdapat sopir, petugas kebersihan, penyedia kopi di kantor, kader posyandu, polisi hutan, jurnalis, hingga pekerja lapangan lainnya. Orang-orang yang jarang disorot kamera, namun menjadi penyangga utama roda pelayanan publik dan kemanusiaan di daerah.
Pelepasan 33 jamaah umrah berlangsung penuh haru di Ruang Tengah Pendopo Gubernur NTB, Mataram, Selasa (20/1/2026). Bagi sebagian penerima, keberangkatan ini menjadi pengalaman spiritual yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sebuah kejutan yang datang sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian yang dijalani dengan tulus dan tanpa pamrih.
Dalam sambutannya, Gubernur Miq Iqbal menegaskan bahwa dirinya bukanlah pemberi hadiah, melainkan hanya perantara. Menurutnya, panggilan ke Tanah Suci adalah hak prerogatif Allah SWT.
“Yang memanggil ke Baitullah itu Allah. Saya hanya wasilah. Bapak dan Ibu semua sudah dipilih, saya hanya mengantarkan,” ujarnya dengan nada penuh ketundukan.
Ia mengungkapkan bahwa kebahagiaan terbesar baginya bukan berdiri di atas panggung kehormatan, melainkan menyaksikan wajah-wajah yang akan memenuhi panggilan suci. Bahkan, niatnya untuk ikut berangkat umrah bersama keluarga ia batalkan, memilih tetap berada di daerah di tengah berbagai musibah yang sedang dihadapi masyarakat NTB.
Dengan suara yang sarat harap, Gubernur menitipkan satu permohonan khusus kepada para jamaah. Ia meminta agar di hadapan Ka’bah, NTB menjadi doa pertama yang dipanjatkan.
“Doakan agar rakyat kita keluar dari kemiskinan, agar para pemimpin diberi kekuatan, kejujuran, dan keikhlasan dalam menjalankan amanah, serta agar ikhtiar yang sedang kita lakukan diberi pertolongan oleh Allah,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar seluruh pekerja yang mengabdi bagi daerah turut didoakan, mulai dari petugas lapangan, relawan, kader kesehatan, hingga mereka yang setiap hari bekerja tanpa banyak dikenal. Di akhir pesannya, Gubernur menitipkan salam rindu kepada Rasulullah SAW, menandai bahwa perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin.
Keberangkatan 33 jamaah umrah tersebut menjadi lebih dari sekadar peristiwa seremonial. Ia menjelma sebagai refleksi tentang makna kepemimpinan yang memuliakan pengabdian, menguatkan harapan, dan menyatukan doa. Sebuah ikhtiar sederhana yang meninggalkan pesan besar, bahwa kerja dalam sunyi pun layak dihargai, dan bahwa keberkahan sebuah daerah tumbuh dari ketulusan hati warganya. (04)












