Sumbawa barat, Bintangtv.id — Gemuruh sorak penonton berpadu dengan percikan lumpur di Stadion Bentiu, pada Ahad, ( 4/1/2026). Menjadi penanda dimulainya rangkaian kalender tahunan Barapan Kebo Kabupaten Sumbawa Barat. Lebih dari sekadar perlombaan, Barapan Kebo adalah panggung hidup tempat nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan identitas masyarakat Sumbawa diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi ini berakar kuat dari kehidupan agraris masyarakat Sumbawa pada masa lalu. Sebelum alat pertanian modern dikenal luas, kerbau menjadi sahabat setia petani dalam mengolah sawah. Menjelang musim tanam, para petani berkumpul di satu hamparan sawah basah untuk bergotong royong melumatkan tanah. Dari kebersamaan itulah lahir Barapan Kebo sebuah ekspresi budaya yang tumbuh alami dari kerja kolektif masyarakat.
Dalam perspektif budaya Sumbawa, Barapan Kebo mengandung nilai gotong royong (basiru), di mana para petani saling membantu tanpa pamrih. Setiap pasangan kerbau yang berlaga tidak berdiri sendiri, melainkan hasil kerja bersama antara pemilik, joki, pelatih, dan komunitas.
Hal ini mencerminkan falsafah hidup masyarakat Sumbawa yang menjunjung tinggi kebersamaan dan solidaritas sosial.
Nilai sportivitas dan kejujuran juga menjadi ruh utama Barapan Kebo.
Meski sarat gengsi, perlombaan dijalankan dengan aturan adat yang disepakati bersama. Kemenangan diraih bukan dengan kecurangan, melainkan melalui ketangkasan joki, kekuatan kerbau, serta keharmonisan antara manusia dan hewan. Hubungan ini menggambarkan filosofi keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Barapan Kebo juga mengajarkan nilai kesabaran, ketekunan, dan penghormatan terhadap alam. Proses merawat kerbau, melatihnya, hingga siap berlaga membutuhkan waktu panjang dan perhatian penuh. Bagi masyarakat Sumbawa, kerbau bukan sekadar hewan ternak, tetapi bagian dari kehidupan dan simbol kemakmuran keluarga.
Pelaksanaan Barapan Kebo di awal tahun ini menjadi ruang silaturahmi budaya yang hidup. Sejak pagi hari, Stadion Bentiu dipadati pemilik kerbau, joki, komunitas barapan, tokoh adat, serta masyarakat dari berbagai kecamatan bahkan lintas kabupaten. Arena barapan menjelma menjadi ruang perjumpaan sosial tempat nilai persaudaraan dan identitas bersama dirawat.
Selain nilai budaya, Barapan Kebo juga memberi dampak ekonomi signifikan. Kehadiran ribuan penonton menggerakkan roda perekonomian masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, pedagang tradisional, hingga jasa transportasi lokal. Tradisi ini membuktikan bahwa budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara berkelanjutan.

Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si., menegaskan bahwa Barapan Kebo adalah warisan budaya yang mengandung nilai luhur dan harus terus dijaga. Menurutnya, tradisi ini bukan hanya hiburan rakyat, tetapi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.
“Barapan Kebo mengajarkan sportivitas, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi. Pemerintah daerah berkomitmen mendukung agar warisan budaya ini tetap hidup dan memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujar Bupati.
Ia juga menekankan bahwa Barapan Kebo menjadi media pemersatu masyarakat lintas wilayah di Pulau Sumbawa.
“Melalui Barapan Kebo, kita bertemu, bersilaturahmi, dan memperkuat persaudaraan. Ini adalah modal sosial yang sangat penting bagi pembangunan daerah,” tambahnya.
Dengan terselenggaranya Barapan Kebo di awal tahun 2026, Kabupaten Sumbawa Barat kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga nilai budaya, mempererat persaudaraan antar masyarakat Sumbawa, serta menjadikan tradisi sebagai fondasi pembangunan yang berakar pada jati diri daerah.(02)












