KSB

136 Ton Sampah Diolah, 11 Sekolah Bergerak, dan Budaya Peduli Lingkungan Tumbuh dari Ruang Kelas

11
×

136 Ton Sampah Diolah, 11 Sekolah Bergerak, dan Budaya Peduli Lingkungan Tumbuh dari Ruang Kelas

Sebarkan artikel ini

Sumbawa barat|Bintangtv.id- Pagi belum terlalu tinggi ketika halaman SMPN 6 Taliwang mulai ramai. Bukan hanya suara siswa yang terdengar, tetapi juga aktivitas yang selama ini mungkin dianggap sederhana: memilah sampah, mengumpulkan bahan organik, mengolahnya, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai.

Di tempat ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah benda. Ia menjadi awal dari sebuah proses. Dari tangan para siswa, sisa makanan, daun kering dan sampah organik lainnya diproses menjadi pupuk. Dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna, lahir POSTA, singkatan dari Pupuk Organik Sekolah Kita.

iklan

Inilah cerita kecil dari Sumbawa Barat tentang bagaimana perubahan besar tidak selalu dimulai dari teknologi canggih. Kadang, ia bermula dari sebuah tempat sampah, sekelompok siswa, dan keberanian untuk mengubah kebiasaan.

Di balik perubahan itu ada Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS) yang dikembangkan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Komunitas Hijau Biru. Program tersebut kini telah diterapkan sedikitnya di 11 sekolah di Kabupaten Sumbawa Barat.

Dalam rentang 2022–2025, lebih dari 136 ton sampah organik berhasil diolah menjadi pupuk organik. Angka 136 ton mungkin hanya terlihat sebagai statistik di atas kertas. Namun jika angka itu diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, ia berarti ratusan ton sampah yang tidak berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir. Lebih dari itu, 136 ton adalah jejak perubahan perilaku.

Dari bor modifikasi hingga pupuk bernilai ekonomi. Taofiq Rahman, Kepala SMPN 6 Taliwang, masih mengingat bagaimana semuanya bermula. Sekolahnya tidak memiliki fasilitas pengolahan sampah yang memadai. Keinginan untuk mengelola sampah ada, tetapi sarana menjadi kendala.

“Pada awalnya kami mengalami kesulitan mengolah sampah. Bahkan untuk mencacah sampah kami harus memodifikasi mesin bor,” tuturnya.

Keterbatasan itu justru menjadi pemantik kreativitas. Aktivitas sederhana tersebut didokumentasikan. Dari sana, cerita tentang upaya sekolah mengelola sampah sampai kepada Komunitas Hijau Biru dan kemudian mendapat perhatian AMMAN.

Pendampingan pun dimulai. Mesin pencacah, mesin jahit, timbangan, rumah kompos hingga berbagai peralatan produksi diberikan. Namun bantuan peralatan bukanlah akhir dari cerita. Justru di sanalah proses perubahan dimulai.

Siswa belajar memilah. Guru belajar mendampingi. Sekolah mulai menyusun sistem. Sampah organik diproses menjadi kompos, sementara sampah anorganik dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Dari proses itu lahirlah POSTA. Dalam sekali produksi, SMPN 6 Taliwang kini mampu menghasilkan sekitar 800 kilogram hingga satu ton pupuk organik. Produk tersebut bahkan telah dipasarkan hingga tingkat nasional. Bagi Taofiq, pencapaian itu bukan sekadar soal berapa kilogram pupuk yang berhasil diproduksi.

“Pendidikan karakter dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana, yakni mengajarkan siswa bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi inti dari gerakan yang berlangsung di sekolah tersebut. Sebab, persoalan sampah sejatinya bukan hanya persoalan bagaimana membuang. Ia adalah persoalan bagaimana manusia memperlakukan sesuatu yang dianggap tidak lagi berguna.

Membangun kebiasaan sebelum membangun kesadaran. Program PPSS menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle atau 3R. Siswa tidak hanya diajarkan membuang sampah pada tempatnya, tetapi memahami perjalanan sampah setelah mereka meninggalkannya. Sampah dipilah. Sampah organik diolah menjadi kompos. Sampah anorganik dimanfaatkan kembali.

Rumah kompos menjadi ruang belajar. Timbangan menjadi alat untuk mengukur hasil. Mesin pencacah menjadi bagian dari proses produksi. Bahkan kegiatan yang terlihat sederhana seperti memilah sampah perlahan menjadi kebiasaan. Perubahan lingkungan tidak hanya diletakkan pada pembangunan fasilitas atau penyediaan teknologi. Perubahan ditanamkan melalui perilaku.

Sebanyak 11 sekolah kini menjadi bagian dari gerakan tersebut, yakni SMPN 1 Maluk, SMPN 6 Taliwang, SMPN 3 Taliwang, SDN Bukit Damai Maluk, SDN 2 Taliwang, SMP IT Imam Syafi’i Taliwang, SDN Sapugara, SDN Sagena, SDN Goa, SDN Telaga Baru, dan MTsN 2 Sumbawa Barat.

Sekolah-sekolah tersebut perlahan berubah dari sekadar tempat belajar menjadi ruang tumbuhnya kesadaran ekologis. Anak-anak belajar bahwa lingkungan bukan sesuatu yang jauh. Lingkungan adalah halaman sekolah, rumah, sungai, kebun dan ruang hidup mereka sendiri.

Dari sekolah, pesan itu kemudian bergerak keluar. Sekolah sebagai titik awal perubahan. NGO Komunitas Hijau Biru, H. Bambang, melihat perubahan tersebut sebagai hasil dari pendampingan yang dilakukan secara konsisten.

Menurutnya, dukungan terhadap sekolah tidak berhenti pada edukasi. Sarana dan prasarana menjadi bagian penting agar sekolah benar-benar mampu mengelola sampah secara mandiri.

“Dukungan PT AMMAN sangat luar biasa. Mereka tidak hanya memberikan edukasi dan pendampingan, tetapi juga membantu penyediaan berbagai sarana dan prasarana,” katanya.

Sekolah yang konsisten menjalankan pengelolaan sampah bahkan mendapat insentif bulanan sebagai bentuk apresiasi. Namun yang jauh lebih penting dari insentif adalah tumbuhnya rasa memiliki.

Sampah mulai memiliki nilai. Kegiatan mengelola sampah mulai memiliki makna. Dan siswa mulai melihat bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban yang diperintahkan guru. Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sinilah pendidikan lingkungan menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan hanya melalui buku pelajaran, melainkan melalui kebiasaan.

Alimuddin, salah seorang penggiat lingkungan di wilayah lingkar tambang, mengingatkan bahwa pendidikan lingkungan di sekolah tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban. Kesadaran harus berjalan bersama fasilitas.

“Penyadaran masalah sampah bukan berhenti begitu saja di lingkungan sekolah. Pendidikan lingkungan memang penting, tetapi ada yang jauh lebih penting, keberadaan fasilitas penunjang,” ujarnya.

Di titik inilah kolaborasi menjadi penting. Perusahaan, pemerintah, sekolah, komunitas, akademisi dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Dari kewajiban menjadi kolaborasi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat, Aku Nur Rammadin, S.Pd., M.M.Inov., menilai komitmen AMMAN terhadap lingkungan telah terlihat melalui berbagai program yang dijalankan secara berkelanjutan. Tidak hanya pengelolaan sampah, tetapi juga reklamasi lahan pascatambang dan rehabilitasi lingkungan.

“Komitmen PT AMMAN dalam mendukung pengelolaan lingkungan hidup sangat baik. Hal itu terlihat dari berbagai program yang dilaksanakan secara konsisten,” katanya.

Namun keberhasilan sebuah program lingkungan pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari besarnya anggaran yang dikeluarkan atau banyaknya penghargaan yang diterima.

Ukuran terpentingnya adalah apakah masyarakat berubah. Apakah siswa yang hari ini belajar memilah sampah akan tetap melakukannya ketika mereka lulus?

Apakah kebiasaan yang tumbuh di sekolah akan dibawa pulang ke rumah?

Apakah satu sekolah akan menginspirasi sekolah lain?

Dan apakah masyarakat akan melihat sampah bukan lagi sebagai beban, tetapi sebagai sesuatu yang dapat dikelola dan memiliki nilai?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menentukan apakah sebuah program benar-benar berkelanjutan. Membangun masa depan dari hal yang sering dianggap sepele

Bagi AMMAN, program tersebut menjadi bagian dari komitmen pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, mengatakan program pengelolaan sampah berbasis sekolah dilaksanakan bersama Komunitas Hijau Biru dengan melibatkan 11 sekolah.

Sekolah-sekolah tersebut kini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi sekolah lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang menghasilkan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi.

Namun kisah Sumbawa Barat sebenarnya jauh lebih besar daripada 136 ton sampah. Tentang bagaimana sebuah kebiasaan kecil dapat membentuk karakter. Tentang bagaimana sekolah dapat menjadi laboratorium perubahan sosial.

Tentang bagaimana perusahaan tidak hanya hadir melalui aktivitas ekonomi, tetapi juga dapat berkolaborasi dengan masyarakat dalam menjawab persoalan lingkungan. Dan tentang bagaimana sebuah daerah yang hidup berdampingan dengan aktivitas industri dapat terus mencari titik keseimbangan antara ekonomi, lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Di SMPN 3 Taliwang, perubahan itu mungkin tampak sederhana. Daun dikumpulkan. Sampah dipilah. Mesin dinyalakan. Kompos dihasilkan. Pupuk dikemas. Kemudian seorang siswa pulang membawa satu pelajaran yang mungkin jauh lebih penting daripada sekadar teori di ruang kelas. Bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna masih dapat memiliki kehidupan kedua. Pelajaran itulah yang perlahan menyebar dari sekolah ke rumah, dari rumah ke masyarakat, dan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jika 136 ton sampah dapat diubah menjadi pupuk, maka sesungguhnya yang sedang dibangun di Sumbawa Barat bukan hanya sistem pengelolaan sampah. Melainkan yang sedang dibangun adalah cara pandang baru. Bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan satu lembaga.

Keberlanjutan bukan sekadar slogan. Masa depan dapat dimulai dari sesuatu yang selama ini kita anggap paling remeh sepotong sampah yang dipilah dengan tangan seorang anak sekolah,(02).