Sumbawa, Bintangtv.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berperan dalam peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat lapisan bawah di Kabupaten Sumbawa. Program yang dijalankan oleh pemerintah pusat ini kini mulai menunjukkan dampak positif terhadap petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha kecil di daerah.
Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heriwibowo, menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus mendorong agar kebutuhan dapur MBG dapat dipenuhi oleh pemasok dan petani lokal. Hal ini dilakukan untuk memastikan manfaat program tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga dari sisi ekonomi masyarakat.
“Pemerintah daerah berharap ke depan berbagai kebutuhan dapur MBG dapat dipenuhi oleh pemasok dan petani lokal. Saat ini melalui Dinas Pertanian sedang dilakukan persiapan untuk penyediaan bahan baku seperti sayur-mayur, bawang, dan cabai melalui petani yang dibina dalam sekolah lapangan,” ujarnya, Senin (3/11/2025).
Ia menambahkan, jika petani lokal dapat terlibat dalam rantai pasok MBG, maka efek ekonomi dari program tersebut akan dirasakan secara langsung oleh pelaku usaha mikro, kecil, hingga petani kecil di Sumbawa. “Dengan cara seperti ini, efek pengganda MBG akan benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan menjadi pemicu berkembangnya perekonomian di daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Koperasi Konsumen Syariah BMT Insan Samawa, Rai Saputra, yang menjadi salah satu pemasok bahan kebutuhan untuk beberapa Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG), mengatakan bahwa Program MBG membawa dampak besar terhadap ekonomi masyarakat bawah.
“Program MBG ini sangat membantu masyarakat terutama petani, peternak, hingga nelayan. Program ini bukan hanya menyasar peningkatan gizi anak, tetapi juga membangun ekosistem usaha agar ekonomi benar-benar bergerak di lapisan bawah,” jelasnya.
Rai menuturkan, keterlibatan petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM dalam program ini mendorong terciptanya perputaran ekonomi di tingkat lokal. “Dampak ekonominya sangat signifikan karena satu SPPG bisa melibatkan hingga belasan pemasok, dan setiap pemasok memiliki tiga sampai lima pekerja,” ungkapnya.
Selain itu, keberadaan dapur MBG yang beroperasi setiap hari turut membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap.
“Kebutuhan bahan pangan seperti sayuran, daging, telur, dan beras meningkat. Akibatnya, aktivitas di pasar tradisional juga ikut bergairah,” tutupnya.
Sejak mulai beroperasi lebih dari sebulan lalu, terdapat 10 SPPG di Kabupaten Sumbawa yang aktif melayani masyarakat. Ke depan, pemerintah daerah menargetkan keterlibatan lebih banyak pelaku lokal agar manfaat program MBG semakin luas dan berkelanjutan. (01)












