Ekonomo Bisnis

Mengisi Waktu Luang, Ibu Rumah Tangga Ini Sukses Jalankan Usaha Jahit dan Henna di Plampang

457
×

Mengisi Waktu Luang, Ibu Rumah Tangga Ini Sukses Jalankan Usaha Jahit dan Henna di Plampang

Sebarkan artikel ini

Sumbawa, Bintangtv.id– Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya sebagai sumber penghasilan, UMKM juga menjadi wadah pemberdayaan masyarakat, terutama bagi kaum perempuan.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Kampung Spayung Luar, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Di sana, seorang ibu rumah tangga bernama Mia, yang akrab disapa Kakak Mia oleh warga sekitar, sukses mengembangkan usaha kreatif bernama “Jahit & Henna Mama Mia.”

iklan

Mia memulai bisnisnya dari nol, bermodalkan keahlian otodidak dan semangat untuk membantu ekonomi keluarga, sembari tetap menjalankan perannya sebagai ibu dari dua balita.

Dalam wawancara bersama tim mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dari Program Studi Manajemen, Mia mengungkapkan bahwa keinginannya untuk tetap produktif meskipun berada di rumah mendorongnya membuka jasa rias henna tangan. Tak lama kemudian, ia memperluas usahanya dengan membuka layanan jahit rumahan.

“Awalnya saya belajar henna dari internet, coba-coba di tangan sendiri. Lama-lama banyak yang minta jasa henna untuk acara lamaran, pernikahan, dan acara adat,” kenang Mia.

Melihat peluang yang cukup menjanjikan, Mia kemudian menambahkan jasa jahit sebagai lini usaha tambahan. Keahlian menjahit pun ia pelajari secara mandiri. Kini, ia mampu melayani berbagai pesanan mulai dari seragam sekolah, pakaian pesta, baju rumahan, hingga gandek—tas tradisional petani lokal yang biasa digunakan ke sawah.

Seperti pelaku UMKM lainnya, Mia menghadapi beragam tantangan, mulai dari persaingan pasar hingga fluktuasi permintaan. Dalam bisnis hennanya, misalnya, ia harus bersaing dengan henna tempel murah dan paket rias dari Make Up Artist (MUA) yang kerap memberikan diskon.

Meski demikian, Mia tetap optimistis. Ia yakin henna manual memiliki nilai lebih dibandingkan henna tempel.

“Henna manual itu lebih cantik. Motifnya bisa disesuaikan, ditambah manik-manik, glitter, atau aksesoris kecil lainnya. Klien juga merasa lebih eksklusif,” jelasnya.

Di bidang jahit, Mia menawarkan layanan yang fleksibel dan terjangkau. Ia menerima pesanan pakaian baru maupun perbaikan seperti mengganti resleting, menambal kain, mengecilkan atau memperbesar ukuran baju, hingga memotong kain sesuai permintaan.

Kisah Mia adalah bukti nyata bahwa perempuan bisa berdaya secara ekonomi tanpa harus meninggalkan perannya di rumah. Dengan kreativitas, ketekunan, dan keberanian mencoba hal baru, ia mampu menciptakan peluang usaha yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

“Jangan gengsi memulai usaha, sekecil apa pun. Yang penting halal dan bermanfaat. Kita bisa jadi ibu rumah tangga sekaligus pelaku UMKM. Semua bisa dilakukan kalau ada kemauan,” ujarnya penuh semangat.

Kisah sukses “Jahit & Henna Mama Mia” menjadi pengingat pentingnya dukungan terhadap UMKM, khususnya yang digerakkan oleh perempuan di daerah. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu terus mendorong pelatihan, pendampingan, serta penguatan pemasaran digital agar UMKM seperti milik Mia bisa bertahan dan tumbuh di tengah persaingan yang kian ketat.

Tim mahasiswa UTS yang mewawancarai Mia — Adel Febrianti, Putri Yasmin, Indika Fitriani, Maisa, dan Haniammaria — berharap kisah ini dapat menginspirasi banyak orang, terutama perempuan muda, untuk tidak takut memulai usaha dari hal-hal sederhana.

Penulis: Adel Febrianti, Putri Yasmin, Indika Fitriani, Maisa, dan Haniammaria
Editor: Tim Jurnalistik Kampus – Universitas Teknologi Sumbawa. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *