Tentang Relokasi Rusa Dari Pendopo Sumbawa
Saya dukung relokasi Rusa di pendopo ke Pulau Moyo, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, sehingga Pulau Moyo bisa menjadi pusat penangkaran Rusa.
Keberadaan rusa rusa itu di Pulau Moyo pasti akan diikuti dengan hadirnya aparat untuk menjaganya agar tidak diburu. Intensitas kehadiran aparat di Pulau Moyo juga akan membuat hutan dan kayunya pun akan ikut terjaga. Rusa sebagai ikon Sumbawa pun akan terjaga jika populasinya di Pulau Moyo terjaga, apalagi jika bisa dikembangkan dengan breeding.
Namun, jika ada yang mengatakan Pulau Moyo sejak dulu memang habitat Rusa, -karena itu terkait sejarah, maka saya perlu meluruskan, itu tidak sepenuhnya benar.
Habitat Rusa di Sumbawa masa lalu merata di seluruh Sumbawa. Tidak hanya di Pulau Moyo. Namun memang Pulau Moyo karena baru dijamah lagi oleh manusia setelah dibuka untuk permukiman, maka disana terdapat banyak rusa.
Pada tahun 1847, dari puluhan pulau yang masuk dalam wilayah Kerajaan Sumbawa, hanya Pulau Bungin yang berpenghuni. Demikian catatan Zollinger.
Zollinger mencatat, sebelum tahun 1847 Pulau Moyo berpenghuni, namun semua masyarakatnya dipindahkan ke Labuhan Kuris dan Lape karena maraknya perompak di mana Pulau Moyo menjadi basis persembunyian.
Pejabat kerajaan yang bertanggungjawab atas Pulau Moyo bergelar Singariarong, tak kuat menghadapi serangan perompak. Singariarong pindah ke Labuhan Kuris, Kecamatan Lape, bersama seluruh penduduk Pulau Moyo.
Pulau Moyo sendiri dijadikan tempat penangkaran kuda oleh Sultan Amrullah pada pertengahan abad ke-19. Dari sinilah awal cerita Kuda Liar Sumbawa muncul.
Karena perkembangbiakan kuda yang sangat masif di pulau moyo, sultan bahkan membebaskan siapapun secara gratis untuk berburu kuda di Pulau Moyo. Namun selalu catatan pemburu baik dari Arab maupun Eropa tak mampu menaklukan kuda liar di Pulau Moyo yang menyerang manusia.
Sapi juga banyak di Pulau Moyo pada pertengahan abad 19. Sapi sapi itu dilepas liarkan di pulau Moyo setelah usaha breeding sapi yang diimpor Sultan dari Inggris gagal dilakukan di Penyaring.
Sumbawa sendiri bukanlah daerah endemik sapi atau Sumbawa sebenarnya tidak memiliki sapi sendiri. Semua sapi yang ada di Sumbawa hari ini dengan segala jenisnya berasal dari luar pulau.
Tidak hanya sapi dan kuda, tapi juga kerbau dan rusa sebagai hewan endemik Sumbawa ramai di Pulau Moyo. Kerbau dan Rusa memiliki siklus rantai makanan, mereka menyebrang laut turun dari Gunung Tambora pergi dan balik ke dan dari Pulau Moyo-Tambora. Orang yang menangkap kerbau dan rusa di masa lalu banyak yang menantinya di tengah laut saat siklus mereka menyebrang laut.
Kembali terkait relokasi Rusa yang sudah lama mendiami Pendopo. Ide menangkarnya di Pulau Moyo saya tangkap sebagai ide segar dari Bupati Sumbawa dalam upaya menjaga populasi Rusa Sumbawa.
Namun, agar kiranya tetap ada beberapa Rusa yang tetap dipertahakan di Pendopo. Hal tersebut agar tetap menjaga memori kolektif orang Sumbawa akan Rusa sebagau ikon kabupaten.
Keberadaan beberapa Rusa tersebut di Pendopo akan menjadi “pasangengat” akan Ikon Kabupaten, sehingga kita bisa terus diingatkan untuk menjaga populasinya.
(Yadi Surya Diputra)












