Sosial

Berdiri 6 Tahun Lalu, Begini Lika Liku Oi Petruk dan Sumbawa Grow Up Berjuang Perbaiki Terumbu Karang Akibat Bom Ikan

654
×

Berdiri 6 Tahun Lalu, Begini Lika Liku Oi Petruk dan Sumbawa Grow Up Berjuang Perbaiki Terumbu Karang Akibat Bom Ikan

Sebarkan artikel ini

Sumbawa, Bintangtv.id- Nama Sumbawa Grow Up atau SGU mungkin tidak begitu populer di telinga masyarakat Sumbawa. Namun, di kalangan aktivis atau pemerhati lingkungan, SGU sudah tak asing lagi.

Organisasi pecinta lingkungan ini, dikenal aktif dan getol dalam menjaga dan memelihara ekosistem laut Sumbawa. Sudah puluhan bahkan ratusan lokasi bekas bom ikan yang rusak parah di wilayah laut Sumbawa ini, yang sudah lakukan transplantasi atau penanaman terumbu karang baru.

iklan

“SGU sudah beraktifitas sejak tahun 2016. Namun resmi berdiri Sejak tahun 2017 lalu, kami sudah memulai kegiatan tanam terumbu karang di banyak lokasi di Pulau Moyo, Tanjung Menangis, Kencana, Teluk Saleh dan banyak lokasi lain di Laut Sumbawa ini,” kata Ari Abdussalam, Ketua Sumbawa Grow Up, Minggu (13/08/2023).

Menurut Oi Petruk, demikian ia akrab disapa, pada awal dibentuk tahun 2017 lalu, ia dan beberapa orang tim kecil SGU bekerja secara mandiri dengan dilandasi  tekad serta rasa prihatin dengan kondisi terumbu karang yang hancur lebur akibat ledakan bom ikan oleh ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Kami prihatin sekali, tak terhitung jumlah lokasi bom ikan. Oleh karena itu kami bertekad memperbaikinya. Kami mulai melakukannya di beberapa lokasi yang dekat dan mudah kami jangkau. Karena saat itu kami belum memeiliki fasilitas seperti sampan dan lainnya,” kata Oi.

Ia menceritakan, perjalanan SGU tidak mudah dan mulus. Ditengah jalan, ia dan timnya sempat diusir dan tidak diperbolehkan beraktifitas di salah satu desa. Kemudian SGU berpindah lokasi ke desa lainnya dengan tujuan tetap eksis menjaga dan memperbaiki laut Sumbawa dari kerusakan.

“Seiring berjalan waktu, kami mendapat perhatian dari pemerintah pusat karena kegiatan yang kami lakukan. Kami mulai mendapat bantuan kapal dan alat selam untuk mendukung kegiatan transplantasi ini,” Oi menjelaskan.

Lebih jauh, Oi menjelaskan, selama SGU berdiri, tidak begitu banyak donatur yang membantu dan jalin bekerjasam.

“Gak begitu banyak donatur yang membantu kami, tahun 2018 ada dari BPSPL Denpasar, KKP RI dan dari 3 anggota dewan Kabupaten Sumbawa. Tahun 2019 kita dapat 4 alat selam dari KKP, PLN Sumbawa dan di tahun 2020 lalu dari Pemda slSumbawa dan PLN,” Oi merincikan.

Namun demikian, Oi bercerita, walaupun tidak ada donatur, namun setiap bulan kegiatan tanam karang tetap berjalan dengan dana sendiri.

“Setiap bulan kami tetap laksanakan transplantasi dan dana dari hasil penyewaan alat selam bantuan,” tutu Oi.

Untuk meningkatkan kemampuan, Ia dan rekan rekannya secara rutin melaksanakan pelatihan pelatihan di Lombok demi memajukan SGU.

“Kita secara rutin melaksanakan pelatihan pelatihan seperti pelatihan diving dan pengenalan selam scuba dasar. Ini penting karena proses transplantasi berada di kedalaman laut 10 hingga 15 meter,” ungkap Oi.

Menurutnya, seiring berjalan waktu, beberapa lokasi yang rusak parah akibat bom ikan telah ditanam karang dan telah tumbuh dengan bagus kemudian menjadi destinasi wisata snorkling dan diving serta menjadi rumah rumah ikan.

“Kami berharap pemerintah NTB dan Sumbawa serta donatur donatur, secara rutin bergabung bersama kami, bersama kita perbaiki dan jaga ekositem laut kita,” pungkasnya. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *