Sumbawa, Bintangtv.id – Kabupaten Sumbawa kembali menorehkan sejarah penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Investasi besar senilai Rp1,3 triliun untuk proyek Integrated Poultry Industry atau industri unggas terintegrasi resmi masuk ke wilayah Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir. Peletakan batu pertama (groundbreaking) dijadwalkan berlangsung serentak Jumat (6/2/2026).
Proyek strategis ini berada di bawah naungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melalui BUMN PT Berdikari, dan menjadi bagian dari penguatan ketahanan sekaligus kedaulatan pangan nasional.
Tokoh asal Sumbawa sekaligus Poultry Business Advisor PT Berdikari dan Tim Pakar Perunggasan Nasional Kementerian Pertanian RI, Sahrul Bosang, menyampaikan rasa syukur atas terwujudnya investasi besar tersebut. Menurutnya, masuknya proyek ini merupakan hasil perjuangan panjang dan koordinasi lintas sektor yang telah dimulai sejak Juli 2025.
Ia menjelaskan, penetapan Serading sebagai titik lokasi pembangunan di NTB tidak lepas dari lobi dan kerja keras berbagai pihak, mulai dari Bupati Sumbawa, Gubernur NTB, Anggota Komisi IV DPR RI H. Johan Rosihan, hingga dukungan Jenderal Arief Hartono dari TNI AU.
“Selamat kepada semua pihak yang sudah berjuang tanpa lelah sejak 11 Juli 2025. Akhirnya besok proyek ini resmi dimulai. Hasilnya nyata, investasi Rp1,3 triliun masuk ke Sumbawa,” ujar Sahrul.
Groundbreaking di Sumbawa akan dilakukan bersamaan dengan lima provinsi strategis lainnya di Indonesia, yakni Lampung, Jawa Timur (Malang), Sulawesi Selatan (Bone), Gorontalo, dan Kalimantan Timur. Secara nasional, proyek hilirisasi pangan ini memiliki nilai total sekitar Rp20 triliun.
Lebih dari sekadar angka investasi, proyek ini dinilai membawa dampak langsung bagi masyarakat, khususnya peternak kecil. Sahrul menegaskan bahwa kehadiran industri unggas terintegrasi merupakan bentuk tindakan afirmatif pemerintah untuk melindungi peternak rakyat yang selama ini kesulitan bersaing dengan perusahaan besar.
“Selama ini peternak kecil sering tertekan oleh persaingan dengan industri besar. Proyek ini hadir sebagai proteksi sekaligus penguat posisi mereka,” jelasnya.
Industri ini dirancang terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan (breeding), pabrik pakan, hingga pengolahan hasil produksi. Sistem ini diharapkan mampu menekan biaya produksi, menjaga stabilitas harga DOC dan telur, serta menciptakan rantai pasok yang lebih efisien di tingkat lokal.
Selain memperkuat ketahanan pangan, proyek ini juga akan mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas pemerintah pusat.
Bagi masyarakat Sumbawa, dampak paling nyata adalah terbukanya lapangan kerja baru dalam jumlah besar, baik di sektor teknis, operasional, maupun manajemen. Perputaran ekonomi lokal diperkirakan meningkat seiring hadirnya aktivitas industri berskala besar di wilayah tersebut.
“Insyaallah ini menjadi awal yang baik untuk membangun kedaulatan pangan dari tanah Sumbawa. Lapangan kerja terbuka, ekonomi daerah bergerak, dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” tutup Sahrul optimistis.
Bupati Sumbawa, Ir. Syarafuddin Jarot MP, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan kerja keras pemerintah dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat. Dengan adanya proyek ini akan memnawa banyak muti plare efek baik tenaga kerja dan pendapatan hasil peternakan warga.
“Proyek ini sempat hilang di list nasional, tapi kami berusaha keras sehingga ini bisa terwujud,” tagas bupati. (01)












