Sumbawa, Bintangtv.id – Pemerintah Kabupaten Sumbawa berkomitmen untuk terus memaksimalkan peran dan fungsi bank sampah sebagai langkah strategis dalam menekan volume produksi sampah yang saat ini mencapai 105 ton per hari.
Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, menegaskan bahwa pengendalian sampah masih menjadi tantangan serius. Saat ini, tingkat pengelolaan sampah di Kabupaten Sumbawa baru mencapai sekitar 5 persen dari total produksi harian.
“Pengendalian sampah yang kita lakukan saat ini baru mencapai 5 persen. Kami juga akan mendorong pembentukan tim teknis khusus yang akan mengelola sampah secara terpadu dan berkelanjutan,” ujar Haji Ansori, Senin (3/11/2025).
Ia menekankan bahwa persoalan sampah tidak boleh dianggap sepele karena dampaknya sangat luas, mulai dari kebersihan, kesehatan, hingga keberlanjutan lingkungan. “Sampah bukan sekadar urusan kebersihan, tetapi juga menyangkut kesehatan, lingkungan, bahkan masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus dilakukan setiap hari dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk rumah tangga, sekolah, dan perkantoran. “Kami akan turun langsung memantau progres di lapangan. Saya ingin melihat Sumbawa bersih, sehat, dan masyarakatnya maju, unggul, serta sejahtera. Pulang dari sini, kita semua harus langsung bekerja,” tegasnya.
Ia mengingatkan pentingnya penguatan bank sampah sebagai solusi berbasis masyarakat untuk menekan timbulan sampah.
“Sumbawa memiliki potensi besar untuk mencapai target nasional pengelolaan sampah sebesar 51,2 persen pada akhir tahun 2025 dan menuju 100 persen pada 2026. Peran bank sampah harus dimaksimalkan,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, jumlah timbulan sampah di Kabupaten Sumbawa mencapai sekitar 77 ribu ton per tahun, dengan 60 hingga 70 persen di antaranya merupakan sampah organik yang mudah diolah menjadi kompos. Namun, baru sekitar 5 persen yang tertangani secara terpola.
“Optimalisasi bank sampah menjadi langkah penting dalam memperkuat pengelolaan sampah non-organik,” tambahnya.
Wabup mendorong partisipasi aktif masyarakat, terutama sekolah dan rumah tangga, untuk menjadi pelopor dalam memilah dan mengelola sampah sejak dini. (01)












