KSB

Keterbatasan Alat Jadi Kendala Hambat Produksi Kain Tenun Mantar

7
×

Keterbatasan Alat Jadi Kendala Hambat Produksi Kain Tenun Mantar

Sebarkan artikel ini

Sumbawa barat|Bintangtv.id-Keterbatasan alat tenun menjadi kendala utama bagi Kelompok Tenun Mantar Berseri di Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dalam memenuhi permintaan kain tenun khas daerah tersebut.

Kelompok yang memproduksi kain tenun dengan motif-motif khas Desa Mantar itu saat ini hanya mengandalkan satu alat tenun yang dapat digunakan. Kondisi tersebut membuat kapasitas produksi terbatas, sementara pesanan dari konsumen terus berdatangan.

iklan

Salah seorang anggota Kelompok Tenun Mantar Berseri, Sabariah, mengatakan satu alat tenun yang tersedia hanya mampu menghasilkan sekitar 70 hingga 80 sentimeter kain dalam sehari apabila dikerjakan secara penuh.

“Kami hanya punya satu alat dan hanya bisa mengerjakan 70 sampai 80 sentimeter per hari. Itu pun kalau dikerjakan sehari penuh,” ujar Sabariah. Saat ditemui di rumah tenun Mantar Berseri,( 22/8/2026)

Menurutnya, keterbatasan alat semakin terasa ketika permintaan kain tenun meningkat. Terlebih, apabila alat yang digunakan mengalami kerusakan, kegiatan produksi praktis semakin terhambat.

Sabariah menuturkan, jika jumlah alat tenun ditambah dan seluruh peralatan berada dalam kondisi baik, kelompoknya dapat meningkatkan kapasitas produksi hingga sekitar satu meter atau lebih dalam sehari, tergantung jenis dan tingkat kesulitan motif yang dikerjakan.

“Kalau alat kami tidak rusak dan jumlahnya banyak, kami bisa bekerja maksimal. Bahkan bisa menenun satu meter atau lebih per hari. Tapi karena alat hanya satu dan satu-satunya itu juga rusak, kami kesulitan memproduksi kain,” katanya.

Sabariah mengungkapkan, sejumlah konsumen bahkan telah melakukan pemesanan atau pre-order (PO), namun tidak seluruh pesanan dapat dipenuhi tepat waktu. “Kami kalau mendapat pesanan sudah kewalahan. Pesanan juga sudah banyak yang PO. Namun kami terkendala alat sehingga banyak pesanan yang terpaksa kami tolak,” ujarnya.

Ia menyebutkan, dukungan pemerintah sebenarnya telah diterima, salah satunya melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) berupa bantuan satu unit alat tenun. Namun, kebutuhan alat produksi masih belum sepenuhnya terpenuhi sehingga kelompok berharap adanya tambahan peralatan untuk meningkatkan produktivitas.

Sementara itu, Kepala Desa Mantar Asmono mengatakan, pengembangan kerajinan tenun di desanya mendapat perhatian dari sejumlah pihak. Pemerintah daerah bersama berbagai pihak telah memberikan dukungan untuk memperkuat keberadaan kelompok pengrajin tenun.

Dukungan tersebut antara lain berupa pembangunan galeri yang diharapkan dapat menjadi ruang untuk memamerkan sekaligus memperkenalkan produk tenun Mantar kepada masyarakat yang lebih luas.Selain pemerintah daerah, dukungan juga datang dari sejumlah pihak, termasuk Bank Indonesia (BI) dan PT Amman.

Pemerintah Desa Mantar, kata Asmono, juga terus berkomitmen mendorong kelompok tenun agar tetap berproduksi dan berkembang. Salah satu bentuk dukungan dilakukan melalui bantuan bahan baku, khususnya benang yang digunakan dalam proses pembuatan kain tenun.

“Kami dari pemerintah daerah terus berkomitmen mendorong kelompok ini agar terus berproduksi, salah satunya dengan membantu pengadaan benang,” katanya.

Keberadaan kelompok tenun dinilai tidak hanya penting untuk menjaga keberlangsungan kerajinan tradisional Desa Mantar, tetapi juga berpotensi menjadi sumber penghasilan masyarakat sekaligus bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Kabupaten Sumbawa Barat.

Karena itu, pemerintah berharap Kelompok Tenun Mantar Berseri dapat terus bertahan dan meningkatkan kapasitas produksinya. Penambahan peralatan menjadi salah satu kebutuhan penting agar potensi pasar yang sudah terbentuk melalui pesanan konsumen dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Kami berharap Kelompok Tenun Lestari bisa terus eksis dan produksinya bisa go international, sehingga nantinya tenun Mantar dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Dengan kekayaan motif dan nilai budaya yang melekat pada kain tenun Mantar, peningkatan kapasitas produksi dinilai menjadi langkah penting agar produk lokal tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar daerah, tetapi juga memiliki peluang menembus pasar nasional hingga mancanegara.(02)