Nasional

Lawan Kekerasan terhadap Santri, Jaga Marwah dan Masa Depan Pesantren

14
×

Lawan Kekerasan terhadap Santri, Jaga Marwah dan Masa Depan Pesantren

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta|Bintangtv.id-Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki peran besar dalam mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berkontribusi bagi bangsa. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan modern, pesantren telah melahirkan banyak ulama, pemimpin, pejuang, serta tokoh masyarakat yang memberikan pengabdian nyata bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Di tengah perkembangan dunia pendidikan saat ini, pesantren dituntut tidak hanya menjadi pusat pembelajaran ilmu agama dan penanaman nilai-nilai moral, tetapi juga menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Hal tersebut disampaikan oleh Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Fakhruddin Rob, dalam keterangannya pada Rabu (10/6/2026).

iklan

Menurut Fakhruddin, pesantren harus menjadi rumah kedua bagi para santri. Di lingkungan pesantren, para santri tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga membentuk karakter, membangun kepribadian, serta merancang masa depan mereka.

“Pesantren bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua bagi para santri. Di sanalah karakter dibentuk, ilmu ditanamkan, dan cita-cita masa depan dirajut. Sejarah Indonesia mencatat bahwa pesantren telah menjadi bagian penting dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan peradaban bangsa,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan di lingkungan pesantren harus ditolak dan dicegah bersama. Kekerasan yang dimaksud tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga kekerasan verbal, psikologis, intimidasi, diskriminasi, hingga perundungan (bullying) yang dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kondisi mental dan perkembangan santri.

Fakhruddin menilai bahwa pendidikan yang berkualitas tidak dapat dibangun melalui rasa takut. Sebaliknya, proses pendidikan yang efektif lahir dari keteladanan, pembinaan yang humanis, komunikasi yang baik, serta hubungan yang dilandasi rasa saling menghormati antara pendidik dan peserta didik.

“Tidak ada pendidikan yang berhasil melalui ketakutan, dan tidak ada akhlak mulia yang tumbuh dari kekerasan. Pendidikan yang sejati lahir dari keteladanan, kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, serta hubungan yang penuh kepercayaan antara guru dan santri,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa menjaga pesantren dari praktik kekerasan merupakan bagian dari upaya menjaga marwah dan kehormatan lembaga pendidikan Islam tersebut. Lingkungan yang aman dan ramah akan membantu santri tumbuh menjadi generasi yang sehat secara mental, kuat secara spiritual, serta memiliki karakter yang kokoh.

Sebaliknya, tindakan kekerasan berpotensi menimbulkan trauma, menghambat proses belajar, serta merusak kepercayaan yang seharusnya terbangun antara pengasuh, guru, dan santri. Oleh karena itu, seluruh elemen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren, mulai dari pengasuh, ustaz, orang tua, pemerintah, hingga masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk menciptakan budaya pendidikan yang mengedepankan perlindungan dan penghormatan terhadap hak-hak santri.

Fakhruddin mengajak seluruh pihak untuk menjadikan pesantren sebagai ruang pendidikan yang ramah anak dan ramah santri, tempat tumbuhnya generasi penerus bangsa yang cerdas, berintegritas, dan berakhlak mulia.

“Marilah kita jadikan pesantren sebagai ruang yang aman, ramah, dan membahagiakan bagi setiap santri. Tempat di mana mereka dapat belajar dengan tenang, beribadah dengan khusyuk, serta tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, tangguh, dan mencintai bangsa serta negaranya,” katanya.

Ia menambahkan, menjaga santri berarti menjaga masa depan Indonesia. Sementara menjaga pesantren berarti menjaga salah satu warisan pendidikan dan perjuangan bangsa yang telah terbukti memberikan kontribusi besar dalam membangun karakter dan peradaban Indonesia.

Dengan semangat “Pesantren Ramah Santri, Benteng Akhlak dan Peradaban Bangsa”, diharapkan seluruh pesantren dapat terus memperkuat sistem pembinaan yang humanis, mengedepankan nilai kasih sayang, serta menjadi lingkungan pendidikan yang bebas dari segala bentuk kekerasan demi terwujudnya generasi Indonesia yang unggul dan berakhlak mulia.(02)